Saturday, August 02, 2008

Herman Hasyim

Siapakah Herman Hasyim? Sewaktu kecil dulu, kita mengenalnya sebagai kolumnis yang kritis nan kocak. Atau, setidaknya seorang cerdik yang pandai mengutak-atik kata. Kita juga mengenalnya sebagai tokoh yang tak punya pendirian: tak punya organisasi dan enggan memfanatikkan keyakinannya.

Empat puluh tahun setelah kepergiannya, saya menemukan sepetak kamar di sebuah kontrakan di Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Terletak di lantai dua, luasnya cuma 2 x 3 meter. Tak ada AC. Catnya sudah terkelupas, seperti kebanyakan kos-kosan di daerah ini.

Sore itu saya menelisiki kamar yang sempit dan pengap itu untuk mencari sisa sejarah yang tersembunyi. Saya tidak mendapatkannya secara utuh. Di kamar itu hanya ada sebuah jendela yang mengarah ke Jalan Taman Margasatwa.

Kontrakan ini dioperasikan pada tahun 2007. Di antara penyewa kamar, berdasarkan data pemilik kontrakan, tidak ada nama Herman Hasyim. Yang ada ialah Hermansyah. Lahir di Tuban, 10 Agustus 1982, sehari-hari ia bekerja selaku reporter di sebuah media online. Ia suka pulang dini hari.

Mengapa Hermansyah mengubah namanya menjadi Herman Hasyim dan bagaimana kolumnis dengan tubuh kerempeng ini mengisi hari-harinya sebagai wartawan? Saya tak tahu persis. Barangkali ia mendapatkan nama belakang “Hasyim” dari nama ayahnya: Nurhasyim. Dan, kemungkinan ia merakit kolom-kolomnya selepas kerja hingga subuh.

Dengan bantuan rokok dan kopi, ia sanggup menghasilkan karya. Tapi dengan itu pula tubuhnya menjadi ringkih dan akhirnya tak berdaya pada usia 40-an. Bagi mereka yang makan dan tidur secara teratur, Herman Hasyim adalah pemuda yang sembrono. Orang yang gemar menyepelekan kondisi kesehatannya. Namun kita mesti menempatkannya sebagai pribadi yang unik. Ia tidak pernah jatuh cinta kepada kehidupan yang tertib: kehidupan yang simetris.

Seorang penulis pernah menyinggung bagaimana posisi Herman Hasyim dalam sejarah tulisan populer di Indonesia: Herman Hasyim memang tak mengusung corak yang benar-benar baru, tapi ia membangkitkan kembali ruh Art Buchwald yang sudah tertimbun tanah itu.

Herman Hasyim, masih menurut penulis itu, telah menyegarkan kembali artikel-artikel koran yang terlanjur identik dengan kekakuan dan kegersangan. Ia sering memperkenalkan kosa kata baru, terampil mengembangkan humor, dan memboboti tulisannya dengan pandangan yang galak namun selalu membikin pembaca terbahak-bahak.

Dalam banyak hal, agaknya ia seperti Farid Gaban—mantan wartawan Tempo dan Republika yang membukukan kumpulan kolomnya dalam “Belajar Tidak Bicara”. Dalam beberapa hal ia juga seperti Harry Roesli, yang kolom-kolomnya di rubrik “Asal-Usul” Kompas begitu menggelitik. Tapi Herman Hasyim pernah mengatakan bahwa ia sangat mengagumi kolumnis era 1970-an Mahbub Djunaidi. Ia juga gandrung kepada Samuel Mulia, penulis rubrik “Parodi” di Kompas, yang gemar menelanjangi kebusukannya sendiri.

“Aku ini cuma tulang belulang,” kelakar Herman Hasyim, “tapi aku adalah tulang punggung keluarga.”

Berjuang Melawan Pelecehan

Akhir September 2006, seorang pemuda 23 tahun hijrah, menaiki sepur, ke Ibu Kota Jakarta. Dengan mata berkaca-kaca ia tinggalkan kekasihnya, yang demikian menyayanginya, buat mengadu nasib. Apa sesungguhnya yang dicarinya?

Sejarah kemudian berkisah bahwa Hermansyah meninggalkan Tuban, juga Surabaya, untuk mewujudkan mimpinya: meniti karir dan mengumpulkan rupiah. Tapi apa yang berlalu tak sesederhana yang ia bayangkan.

Pada mulanya ia memasuki apartemen Puri Imperium, menginjakkan kakinya di kantor hukumonline, dan meneken sebuah kontrak. Isinya: sebuah ikatan kerja, dengan posisi reporter dan gaji satu koma sekian juta. Selama tiga bulan pertama ia menjadi pekerja waktu tertentu. Bila dinyatakan lulus masa percobaan, ia menjadi pekerja waktu tidak tertentu alias karyawan tetap. Isi kontrak itu tak lama kemudian tersiar hingga ke Tuban.

Waktu itu, Tuban masih merupakan kabupaten yang terbelakang. Kekuasaan masih dipegang Golkar dan bupati Haeny Relawaty bak berkuasa tanpa batas. Singgasananya pernah dibakar rakyat usai Pilkada. Tapi ia, dibentengi sang suami yang tak lain adalah pengusaha terkaya di Bumi Ronggolawe, bisa mematahkan ‘pemberontakan’ itu. Pemerintahan berlangsung koruptif. Masyarakat kelas bawah terus menjerit, tapi hanya bergema di bilik-bilik pengap.

Hermansyah tentu ingin turut memperbaiki kondisi kampung halamannya. Ia seorang sarjana. Dan lebih dari lulusan perguruan tinggi lainnya, ia piawai menulis. Ia bisa menjadi jurnalis yang menghasilkan berita-berita kritis.

Tapi toh ia pergi ke Batavia: kota yang garis nasibnya sudah sedemikian jelas. Sungguh, kota ini tidak membutuhkan seorang perantau macam ia. Lantas?

Buku harian Hermansyah, yang berisi tulisan yang begitu memikat, menceritakan banyak hal: di balik raganya yang kurus, ia memendam ambisi besar. Pemuda berkulit gelap, yang hobi bermain catur ini, lahir dari keluarga sudra. Ia ingin kaya dengan berkarya. Ia ingin dikenang keluarga sebagai anak yang berbakti.

Namun menaklukkan Jakarta bukan pekerjaan gampang. Hermansyah, yang lahir di Sumurcinde yang jauh dari ibu kota, menjadi seorang yang kikuk. Bagi orang macam dirinya, Jakarta adalah kota yang bisa membuat celaka. Di sini para profesional muda bersolek dan berparfum, luwes dan kadang sadis. Hermansyah tidak. Di suatu hari di kantor, si canggung ini bahkan pernah jadi bahan tertawaan: ia salah menyebut Inayah sebagai Sheila. Semua gara-gara ia jarang bergaul dengan karyawan perempuan.

Hermansyah mencoba keluar dari situasi seperti itu. Tentu, ia tak betul-betul mengakui kekurangannya sendiri. Tapi pandangan meremehkan dari orang-orang di sekitarnya, membuat ia selalu habis-habisan membuktikan kemampuannya.

Demikianlah, ia menjalin hubungan erat, tanpa sepengetahuan Kantor, dengan sejumlah kalangan. Membangun relasi, demikian ia menyebutnya, ia lakukan bukan cuma untuk menambah daftar narasumber. Ia juga ingin memperoleh apa yang diharapkan pekerja kelas bawah lainnya: peningkatan karir.

Dan ternyata ia berhasil, setelah berpuluh-puluh hari dilanda frustrasi. Dengan kemahiran menulis, ditopang kegigihannya untuk berjuang melawan pelecehan, ia mendapat kemenangan. Di sebuah tempat kerja yang baru, posisinya lumayan menanjak. Walau gajinya tak terlalu menjulang, namun ia merasa nyaman. Yah, kenyamanan itulah yang sangat ia butuhkan ketika sang jabang bayi yang dikandung Dewi, istrinya, akan nongol ke dunia dalam hitungan hari.

Jakarta, Jumat (awal Juli 2008)

Enrichissez Vouz!

Seruan itu tak hanya datang dari orang-orang bermulut wangi yang lehernya selalu dicekik dengan dasi. “Jadilah kaya!” adalah seruan semua penghuni kota ini.

Aku dengar seruan itu, Sayang. Aku mendengarnya seraya mengutuk kemiskinan ini. Siapa yang tak ingin naik ke jenjang yang lebih tinggi? Siapa?

Tapi hari ini masih hari yang sengsara. Hari yang kita sebut ‘jaman perjuangan’. Kita bukan pengecam para maniak uang, tapi kita juga bukan orang yang suka hidup dengan kerendah hatian orang lain.

Kemiskinan ini, Sayang, tidak mudah dijinakkan. Percobaan demi percobaan untuk mendapatkan laba-lebih selalu mandek. Yang ganjil, banyak manusia seusia kita telah tiba lebih dulu ke jenjang itu: kemakmuran dengan segala keriuhannya.

Kita baru akan mencicipi buah yang kita tanam belasan tahun. Kita selalu percaya pengetahuan yang kita kumpulkan di bangku sekolah akan menolong kita di kemudian hari. Tapi masa panen itu belum benar-benar tiba.

Kau bilang kita adalah bagian dari masyarakat yang tak kena kutuk. Kau menunjuk seorang tetangga yang sarjana tapi kerjanya adalah mencari pekerjaan. Itu benar, Sayang. Tapi sehebat-hebatnya kita, toh nyatanya hari ini kita masih makan bersama dari piring yang sama.

Ada yang mengarahkanku agar berjungkir balik di sajadah, merapalkan doa, dan berharap tangan yang tak terlihat itu mau terlibat memperbaiki nasib kita. Aku tak melakukan itu. Bukan, bukan karena aku menganggapnya tahayul. Aku hanya ragu apakah dengan melakukan itu segala isak tangis akan habis.

Aku percaya, di masa sengsara, ide-ide menyeruak. Inilah periode lahirnya pikiran-pikiran brilian. Karena itu, selain mengkutuk keadaan ini, sejatinya aku juga merindukannya. Membuncitkan perut dan mencerahkan pikiran terkadang tak bisa dilakukan serentak.

Maka menjadi kaya tak mesti diukur dengan seberapa banyak rupiah yang telah kita tumpuk. Gagasan-gagasan yang kita kembang biakkan akhir-akhir ini juga bisa membuat kita jadi borjuis. Atau setidaknya kita adalah kaum proletariat yang hebat….

(Thanks to Goenawan Mohamad, sumber inspirasiku)

Tragediku

Pada mulanya ia nyanyian sendu. Di kemudian hari orang menyebutnya ‘tragedi’.


Pagi ini aku diguncang tragedi itu. Batinku terseok-seok di antara masa lalu dan masa depan. Kenangan-kenangan itu belum lapuk benar. Ia masih menusuk-tusuk.


Aku ingat kau hadir di kotaku. Membawa senyum. Menenteng tas dengan buku harian di dalamnya. Kau tulis hari-harimu bersamaku. Suka duka. Dan kau selalu bilang sangat mencintaiku.


Yang hadir tak hanya ragamu. Kau mengantarkan jiwa sucimu. Kau tak pernah tidak menghadiahiku semangat. Aku yang terpuruk, hampir takluk oleh keadaan, jadi tahu betapa bangkit dan menatap masa depan adalah keniscayaan. Dan kau selalu bilang aku bisa melepaskan diri dari masa sulit yang terus melilit.


Kini kau telah jadi istriku. Kau yakin, kita mampu melakoni skenario kehidupan. Kau seperti peramal yang tahu masa depanku. Aku manggut-manggut saja. Sebab, dengan kau di sisiku, tidak ada yang tak mungkin kugapai.


Tapi tragedi itu toh datang juga. Selepas kau pulang, aku seperti ikan yang terjatuh di kolam yang airnya sudah dikuras. Hidung ini seperti kehilangan nafas. Padahal di sisi lain aku mencicipi apa yang sering diidamkan para lelaki itu: kebebasan.


Ah, kebebasan. Aku sudah merengkuhnya bertahun-tahun. Kebebasan ternyata membuatku lelah. Apa artinya tidur dan melekku jika kau tak lagi di sini? Aku lelah, Sayang. Aku takut punah. Kau adalah airku. Tanpamu, bisakah aku hidup?

Wednesday, November 07, 2007

Ada Rindu Untukmu

Bila Kupergi Kuingin Denganmu
Dara manisku kucinta padamu

Ah, Koes Plus mengembalikan romantisme yang telah raib itu. Ah, mereka mengingatkanku pada sosokmu. Benar kata orang, kita merasa memiliki sesuatu, jika sesuatu itu telah lenyap.

Mengapa harus sebegitu ironis? Apakah sudah jadi karakter manusia untuk menyia-siakan apa yang dimilikinya?

Oh kasihku, percayalah, kutelah menemukan betapa tololnya diriku membiarkanmu lenyap dimangsa waktu. Kuselalu rindu padamu sekarang. Sebuah perasaan yang dulu sama sekali tiada pernah kuhiraukan.

Tahukah kamu, bahwa ketika membikin lirik-lirik itu, Koes Plus juga sedang asik-asiknya menyia-siakan orang tercinta mereka. Sebab bagi mereka, yang tersayang adalah uang. Dengan uang, kasih saying orang bisa dengan mudah terbeli.

Tapi aku sedikit lain. Aku mengejar uang tidak untuk ‘membeli’ kasih sayang orang lain, selainmu. Dulu aku juga tak pernah mengumbar rupiah untuk merengkuh kecupmu.

Dara manisku, tahukah kamu bahwa aku sungguh merasa miskin sekarang. Aku kehilangan harta yang begitu mulia. Ia kabur, sebab harta itu adalah kamu yang meninggalkanku. Aku memang salah, karena sembrono: terlalu yakin bahwa kamu tak bakal terpikat lelaki lain. Lelaki yang kamu dambakan tentunya.

Selainmu, hartaku hanyalah beberapa lembar rupiah. Itupun tak seberapa. Kamu tahu, berapapun aku mengantongi gaji, pasti habis hanya untuk kubelikan rokok, buku, dan beberapa potong baju.

O, kasihku. Aku ingin bernyanyi sesendu-sendunya. Sebab aku sukar menangis. “Karena kamu tak punya hati,” begitu ucapmu dulu.

Biarlah, kasihku, biarlah aku tak punya hati. Toh bibir pekatku ini tak mungkin melantunkan sebait lagu, jika tiada yang membimbingnya. Barangkali masih ada cinta di dada ini. Barangkali…..juga masih ada getar cinta di dadamu.

Friday, September 14, 2007

Falak, Puasa, Silat Lidah

Di kampusku dulu, mahasiswa Fakultas Syariah punya 'common enemy' bernama Ilmu Falak. Istilah lainnya adalah ilmu Astronomi. Falak kian jadi momok lantaran dosen yang mengajarkannya tergolong dosen 'beneran'. Kusebut dosen beneran karena ia menerapkan standar yang tinggi dalam penilaian dan sangat mengutamakan kedisiplinan.

Jadinya, hanya 20% mahasiswa yang bisa bisa lulus. Selebihnya harus mengulang --atau melakukan perbaikan--pada semester berikutnya. Mungkin sulit dipercaya: aku bahkan baru berhasil lulus mata kuliah ini setelah memprogramnya empat kali!

Kali pertama, aku memprogram mata kuliah 3 SKS ini pada semester empat. Dosen yang mengajarku adalah Bpk Mukarrom. Ia sungguh dosen beneran. Seorang profesional. Sebenarnya Falak bukan sesuatu yang harus aku jadikan 'musuh', bukan juga mata pelajaran yang sulit dikuasai. Sebab, aku adalah lulusan jurusan IPA sewaktu di MAN (setingkat SMU). Yang jadi persoalan hanyalah kedisplinan. Bpk Mukarrom mengharuskan mahasiswa mengikuti kuliah minimal 70%. Tiap pekan ia menugasi para mahasiswa dengan PR seabrek.

Bagi aku, sebagaimana mahasiswa Fakultas Syariah lainnya, cara mengajar seperti itu kurang tepat. Kami menjadi tak ubahnya pelajar SMU. Apalagi aku terbilang 'rajin' absen dan malas merampungkan PR. Tak mengherankan selepas UAS, kuketahui nilai Falak-ku adalah NOL.

Pada pemograman berikutnya, aku diasuh Bpk Abdussalam, dekan di fakultasku. Dibandingkan dengan cara mengajar Bpk Mukarrom, cara mengajar Bpk Salam lebih lentur. Tapi dari segi penyampaian materi, Bpk Salam kalah jauh.

Ketika itu aku sudah agak sanggup memusuhi rasa malas.

Thursday, May 31, 2007

Sebuah Nomor Penyebar Teror

Rabu malam (23/5), seseorang dengan nomer HP 081592174XX begitu gencar mengirimiku SMS. Pesan pertama (21:39:04) berbunyi, “monyeeet bajingaaan bangsaaat.” Setelah itu berturut-turut ada pesan: “Monyet gila ga mati2” (21:40:10), “Rasain rasain rasain hahaha hahaha” (21:42:07).

Lalu aku balas SMS itu,”Maaf, ini siapa?” Dia tak membalas. Sejenak kemudian aku coba menelponnya dengan nomer telpon kantor. Tapi nihil. Dia tak memedulikannya. Begitu juga ketika aku mengontaknya dengan nomer HP-ku sendiri.

Namun dia kemudian berkirim SMS lagi. “Yg sdh dilupakan, yg sdh dibuang, yg sdh dicampakkan, yg sdh samar bagai kabut, yg menguap bagaikan kentut. Adalah sapa.” (21:52:29). Lalu aku membalasnya, “Yg sdh merah jangan dibikin putih.”

“Apa boleh buat,” katanya, kemudian (21:57:14). Aku hanya membalas, “Ah....”.

Setelah itu kata-kata sarkastisnya nongol lagi: “Mohon doa agar monyet gila cepet modar.” (22:02:51). Kali ini aku berusaha santun namun ‘nyodok’. “Doamu sudah didengar Tuhan. Skrg belajarlah bicara dg lidah, tdk dg jari lentikmu,” ujarku.

Thursday, December 14, 2006

Untuk Seorang Hawa


maaf, aku pura-pura akrab. aku lelaki. tepatnya lelaki penggemar gelisah. dalam rentang sejarahku menghuni dunia, aku tak pernah berhenti memburu ide. karena itu aku mahluk yang gelisah.

aku punya ide. demikian juga kau. bisakah ideku dan idemu menjadi sebuah ide yang bukan lagi milikku dan milikmu, tetapi milik dunia ini?
kutunggu idemu!

jangan tanya dimana aku berada, karena tanpa kau sadari aku telah singgah di benakmu. hati-hatilah dengan segala keterusterangan. waspadailah segala kecemerlangan. pandanglah pemandangan yang ada di
balik pemandangan!

aku tahu kau berharap dapat segera memungkasi rasa penasaranmu padaku. tapi, demi tuhan, aku tak rela dengan mudah dipandangi apalagi dilamuni begitu saja oleh perempuan bijak sepertimu. hanya keabu-abuan yang bisa mendekatiku. dan, kau mesti sadar, keingintahuanmu yang membabi buta hanyalah bentuk lain dari keterjajahan, keterpasungan, dan ketidakberdayaan.

baiklah, sekarang, diamkan rasa ingin tahumu. Yang perlu kau lakukan cuma satu hal saja: berhentilah bertanya. kenapa? karena kau tidak berbakaat jadi penanya.

perempuan sepertimu akan lebih membidadari jika saja tak banyak ucap dan mampu berhemat kata-kata. Belum waktunya kau bertanya, menerka-nerka, apalagi bersabda dengan menyebutku sebagai ini-itu.

percayalah, aku hanya lelaki. tidak lebih. Karena lelaki, aku tidak pernah mengenalmu: sebab kau perempuan. yah, perempuan!

barangkali itulah yang sanggup 'dibentakkan' jari-jemariku. tetapi bila kelak musim-senyum benar-benar tiba, kau selalu kurindui untuk selalu mengawal kegelisahanku.

Untuk Seorang Dewi


Hari-hari ini ketika mataku sukar diajak berburu pemandangan, hanya libidoku saja yang berjoget-joget seirama dengan kenangan-kenangan penuh gairah kala kita saling mendekap erat di malam itu. Di satu sisi hati kecilku merasa keruh dan terluka bila pikiranku sering bersilaturahmi dengan ingatan-ingatan seperti itu. Namun di sisi lain teramat sayang rasanya aku menikmatimu hanya ketika menyentuh jasadmu. Melamunkanmu yang sedang kewalahan menahan nikmat bagiku adalah jenis kenikmatan lain yang tak kalah memabukkan.

Tetapi karena aku suka menikmati kesementaraan, kusudahi saja persinggahanku di belantara lamunan itu. Kuirit masa tersadarku sebelum hengkang ke alam mimpi dengan membaca-baca tulisan di e-mail terakhirmu yang sengaja kau bebankan untuk kusantap dan kuresapi itu. Kuberbisik-bisik halus kepada setiap deret kata yang terketik rapi itu dan kusebar pesan singkat pada ujung paragraf terakhirnya, “Dewiku, jangan kapok dulu menjadi orang nakal”.

Ya, kenakalanmu belum waktunya kau tamatkan. Atau barangkali memang tak perlu kau sudahi meskipun dengan alasan yang maha terpuji: aku ingin tobat. Apalagi bila pertobatan itu sekedar letusan kesadaran semu. Kenapa aku berkata demikian?

Dengarlah, catatlah, camkanlah: Nakal itu halal! Hanya orang nakal lah yang bisa menafsiri dan memutar sejarah. Orang nakal melihat dunia tidak dengan tatapan kosong, tetapi dengan keyakinan dan kerakusan tertentu. Orang nakal tidak mudah terusik idelismenya, terutama untuk mengekor atau bahkan mengiba-iba pada keperkasaan pihak lain. Orang nakal terlatih untuk menjerit ketika dibungkam dan meronta ketika dibelenggu. Bahkan orang nakal bisa menerbitkan mataharinya sendiri meskipun bumi menyembunyikannya di balik awan. Nakal adalah berontak!

Sampai saat ini aku masih tertatih-tatih dan kekurangan energi untuk membudidayakan nakal itu. Kenapa kau malah hendak menamatkannya? Tak sanggup rasanya aku memergokimu berlutut di bawah kesadaran semumu. Kau akan seperti sandal jepit yang iri pada topi hanya karena kebetulan ia dikepalakan. Apa bedanya hina dan terhormat, bila kenyataannya itu hanya sebutan saja. Apa untungnya mencela kenakalan bila dengan cara itu kau belum tentu bermahkota kesempurnaan. Jangan lupa, satu-satunya yang tak ada di dunia ini adalah kesempurnaan!

Jika kenakalan itu adalah pohon, teramat tergesa-gesa bila kau menebang pohon kenakalanmu sekarang. Percuma saja, karena kau belum memetik buahnya, apalagi menyiapkan pohon baru yang kau yakini lebih rindang dan manis buahnya. Hentikan Kawan! Meskipun kau menganggap pohon kenakalanmu itu hanya menghasilkan buah bervirus yang memampuskan, toh paling tidak aku masih butuh bersandar dan berlindung dari terkaman panas dan hujan di teduhnya pohon kenakalanmu itu.

Pada siapa kelak aku berani mengadu dan bertanya tentang kesukaranku membudidayakan kenakalan bila kau sendiri sudah muak dengan kenakalan. Haruskah aku membuang jiwa nakalku, mengusir semangat berontakku, lalu membongkar seluruh jati diriku?

Yang aku lihat, kau sedang serakah untuk meraih kesempurnaan palsu dengan men-tong-sampah-kan kenakalanmu. Aku tidak sedang menghujatmu apalagi memurkaimu yang konon katanya ingin bertobat. Aku cuma ingin menunjukkan saat ini kau sedang tertindas dan terlindas oleh ketidakpastian yang mengitarimu. Sepengetahuanku, tak ada yang perlu berubah darimu. Sekali lagi, tidak ada! Segala ketidakpastian, seluruh konflik batin, dan semua kebimbangan yang menyelimutimu tak lain adalah ujian bagi kenakalanmu. Berjenis-jenis ke-was-was-an yang mengincarmu ibarat gelombang samudra yang tak kenal lelah. Sementara seperti yang aku katakan dulu, kau adalah batu karang. Tak mungkin batu karang insaf dan berniat ingin menjadi batu bata atau batu akik. Ah, terlalu remeh keinsafan seperti itu.

Lihatlah, langit terpampang dengan wajah murung karena angin mengabarkan kau hendak mengubur kenakalan. Langit berharap kau akan menyingkirkan awan dan menata bintang-gemintang lebih indah dari yang terlihat sekarang dengan tangan nakalmu.

Lihat juga, puncak gunung itu mengajakmu bercengkrama dengan lahar. Bunga-bunga edelwis menunggu kecupanmu. Bebatuan telanjang itu masih menagih janjimu dulu untuk membelainya kapanpun bila kau ingin. Tidakkah kau dengar juga bagaimana gemuruhnya bintang-bintang jatuh yang biasanya kau tudingi dengan telunjuk dan kau senyumi dengan harapan mendapat cipratan berkah dari cahayanya.

Seorang Dewi yang aku kenal adalah perempuan yang nakal. Sekali lagi, perempuan nakal! Jangan melotot dulu, ingatlah: nakal adalah berontak. Kenakalanmu tertancap benar dalam lubuk hatiku. Bukan karena kau selalu menebalkan make-up. Bukan karena kau suka membiarkan pancaran auratmu mengalahkan pancaran auramu. Bukan pula karena kau mudah hangus oleh api birahi. Bukan, bukan. Kau nakal bukan karena itu. Kau kusebut perempuan nakal karena kebrilianmu menjungkalkan keegoisanku. Kau mampu memerahkan putihku, dan memutihkan merahku.

Apa jadinya bila kau melarang mulutmu sendiri bicara. Apa jadinya bila kau paksa telingamu pura-pura tuli. Dan apa jadinya bila matamu kau butakan dengan mencukilnya diam-diam. Kau hanya akan menjadi robot. Tepatnya robot terunik sedunia karena memakai jilbab!

Jangan sampai itu terjadi. Ayolah, kibarkan kembali bendera kenakalanmu. Yakinlah, aku akan menjadi orang pertama yang merayakannya dengan menggelar upacara bendera dan mengheningkan cipta --bukan sejenak tetapi selamanya-- untuk kenakalanmu.

Satu lagi, kekasihku. Kenakalanmu adalah keperkasaanmu. Dan, keperkasaanmu adalah kebanggaanku. Aku tak rela keperkasaanmu tinggal menyisakan cerita. Aku akan teramat kecewa bila hanya karena tertusuk duri kecil kenakalanmu tiba-tiba lumpuh. Itu adalah bencana terbesar dalam rentang hubungan kita. Lestarikan kenakalanmu. Jangan bicara soal pertobatan, mari bicara betapa dahsyatnya arti kenakalanmu bagi eksistensiku.

Untuk Bu Sirikit Syah


Subject e-mail saya di atas terinspirasi oleh tulisan Anda berjudul "Rakyat Makan Apa?". Sepengetahuan saya, itulah tulisan terakhir Anda yang berinisialkan Ketua KPID Jatim. Entahlah, sepertinya ada sesuatu yang ingin saya prihatinkan. Saya prihatin karena setelah tulisan tersebut terbit, beberapa hari kemudian Anda bukan lagi seorang Ketua KPID Jatim.

Sambil guyonan, saya pernah mengutarakan keprihatinan saya ini kepada seorang kawan di sebuah warung kopi. Kawan saya itu heran kenapa saya harus prihatin toh Bu Srikit bukan ibu kandung saya, bukan dosen saya, bukan..... Ketika itu saya hanya bisa menjawab, "Karena dua hal: pertama, sulit menemukan sosok perempuan yang canggih dalam urusan media massa seperti dia. kedua, karena last-name saya dan dia sama-sama adalah SYAH."

Bisa Anda tebak, kawan saya itu cuma tertawa terbahak-bahak.

Bu Srikit,
Seandainya semua makanan, termasuk makanan impor yang 'high quality', sudah tidak aman dikonsumsi, saya menyarankan rakyat kita makan berita saja.

Ya, saya agak bercanda. Akan tetapi, bukankah fakta menunjukkan bahwa berita apapun, baik yang mengandung 'virus' yang paling berbahaya sekalipun, tetap dikonsumsi masyarakat kita? Mereka tak pernah takut tertular penyakit konsumerisme atau terjangkit virus hedonisme. Semuanya dilahap. Rakyat semakin rakus pada berita.

Tetapi sayang, Bu. Berita yang tidak 'dimasak' melalui dapur yang bersih pasti akan tercemari oleh berbagai sumber penyakit. meskipun rakyat ogah peduli pada kesehatan nalarnya, tetapi saya tetap percaya bahwa suatu saat kelak mereka akan menginsafi hal ini. Karena itu, adalah sebuah keniscayaan untuk memastikan berita-berita itu 'dimasak' di dapur yang steril oleh para koki yang
steril pula.

Lalu, siapa yang mau dan mampu mengemban tugas pengawasan ini?

Kiprah Anda yang luar biasa sebagai ketua KPID Jatim sebelum ini sebenarnya sedikit banyak telah berhasil memastikan 'dapur' berita itu steril. Tetapi, apalah daya seorang Bu Srikit tanpa dukungan team-work yang bagus.

Seperti yang saya ketahui lewat berita-berita di koran, KPID Jatim sendiri merupakan medan baratayudha. Anda dan kompetitor anda digambarkan layaknya burung emprit yang berperang hanya untuk berebut karak (nasi basi yang dikeringkan). Dan, 'yang terhormat' anggota DPRD tidak sudi melihat ini. KPID Jatim di-eliminasi dari panggung media komunikasi Jawa Timur. Akhirnya, Anda pun menarik diri dari medan baratayuda itu untuk kembali 'bertapa' di kampus dan LKM.

Sungguh, sebagai orang awam yang kebetulan sehari-hari akrab dengan persoalan media massa, saya trenyuh dengan apa yang menimpa Bu Srikit. Beginikah 'nasib' yang harus ditanggung oleh setiap pejuang kebenaran di tanah air ini?

Bu Srikit,
Mohon maaf kalau saya salah tafsir atau terlalu sembrono dalam berkomentar. Mudah-mudahan Bu Srikit tetap sehat dan berkenan membalas e-mail ini.

Hidup kebenaran!!!

Untuk Bung Kholid AS



Sudah hampir tujuh bulan, seseorang itu tak mendengar pidato Tuhan. Kusarankan ia untuk duduk khusyu' di muka komputer. Untuk apa lagi selain meresensi al-Quran. Doakan saja nanti resensinya dimuat. Yah, paling tidak dimuat di disket, hardisk komputer, atau bisa juga di warung kopi.

Intinya, dia ingin dapat 'honor' yang lebih bermanfaat, bukan lagi menghindarkan diri dari ancaman melarat.

Kalau ketemu dia, aku titip salam ya.

Thursday, October 19, 2006

Untuk Gus Imron


kabare JKT tetep apik. monas masih berada di tempatnya. demikian juga bundaran HI masih ada air mancurnya. tapi kalau ada air mata seorang Dewi tumpah di SBY, kukira itu bukan kabar yg bagus. apalagi kalau tumpahnya tepat di hadapanmu, sedangkan kutahu kamu cukup 'kebal' dengan rengekan dan sesenggukan seorang perempuan.

soal lowongan kerja, sampai hari ini memang yang bisa aku akses cuma itu. mohon maaf kalau aku kurang rajin nyari info yang lebih pas untukmu.

apa yang kamu tulis benar: duit bukan segala-galanya. tetapi kalau sudah sarjana masih ngutang ke ortu kan dzalim namanya. ngutang ke pacar? wah, ini lebih parah lagi. aku telah merasakannya, bahkan sampai hari ketika aku menulis e-mail ini. hati ini bukan saja tidak tenang, tapi juga diributi rasa sesal tak berkesudahan.

soal ngurus bojo, aku memang kurang ahli. sama persis dengan ketika aku mendekati seorang perempuan lain, selain si Dewi. aku juga kurang ahli. artinya, filosofi lama tampaknya harus aku pegang: fly with the wind. jalani saja ke mana angin berembus.

tapi bukan berarti aku hendak terbang sejauh mungkin kayak lagunya UNGU itu. ini hanya menyangkut babakan dalam hidup saja. mari melarikan kaki, selagi jumlah kaki kita masih genap; selagi tidak cedera. dan mari menjaga hati, selagi hati belum mati rasa.

so, kaki dan hati memang harus 'bergerak'! karena itulah aku di sini; di kota yang siap mengganjar tiap kesalahanku dengan ungkapan "ANJING LOE!"

namun pada dasarnya JKT tak jauh beda dengan SBY. keduanya sama-sama ditopang dengan kerakusan dan kenekadan. maka hidup di JKT sesungguhnya hanya meneruskan saja episode kerakusan dan kenekadan yang pernah aku alami di SBY.

tentang hal ini aku kira kamu juga cukup tahu. kamu telah merasakannya, beberapa bulan yang silam. tetapi yang mesti diingat, pasti ada beda cara kita mempersepsi keadaan. tentu strategi yang kita terapkan juga tidak identik. kalau aku suka 4-3-3, mungkin kamu suka 4-4-2. seperti itulah tamsilnya.

di JKT aku bergaul dengan orang-orang yang sama sekali baru. sejauh ini pergaulanku masih dengan kawan-kawan seprofesi. kalaupun ada pihak lain, mereka adalah para advokat, para praktisi hukum, aktivis HAM (Kontras, Wahid Institute, ICRP, dll), dan tentu saja pemilik warteg depan kontrakan.

dunia yang baru dengan orang-orang yang baru sungguh menakjubkan, di samping menjengkelkan tentunya. menakjubkan karena aku nyaris tak pernah menduga bisa masuk dalam 'lingkaran pusat'. JKT adalah pusat tanah-air kita, dan orang-orang yang mendiaminya tidak lain adalah para penentu nasib 250 juta penduduk nusantara. tapi JKT dan penghuninya juga menjengkelkan. tingkat keangkuhannya melampaui ambang batas. demikian juga derajat materialisme-nya. benda, fisik, dan performance adalah 'berhala'. karena itu bisa kamu bayangkan betapa tidak bernilainya aku dihadapan para pemuja 'berhala' itu karena aku tak punya benda berharga; fisikku juga yang jauh dari standart, dan masih diperparah dengan performance-ku yang mirip penderita busung lapar. sangat-sangat mengotori pemandangan ibu kota, bukan?

untungnya aku masih menyisakan sedikit spiritualisme, meski kamu tahu aku bukan seorang muslim yang rajin dan bukan pula seorang calon suami yang soleh. dengan sisa-sisa spiritualisme itu aku berusaha memaknai ketakjuban dan kejengkelanku pada kota ini. pada akhirnya aku makin mengerti, harapan untuk eksis selalu terbentang lebar. kuncinya cuma satu: belajar! memaksakan diri untuk terburu-buru 'menikmati' gegap-gempita ibu kota sama halnya dengan melahirkan bayi ketika usia kandungan masih 5 bulan: mati prematur!

karena itulah tiap detikku kuperuntukkan untuk belajar. termasuk belajar mengais nafkah untuk modal mendirikan keluarga sakinah. maka jangan her(m)an kalau aku cukup kerasan tinggal di kota yang masyarakatnya gemar membusungkan dada dan memelototkan mata ini. toh di sini aku cuma sedang belajar!

dengan gambaran seperti itu, sudah sewajarnya aku mulai menyongsong apa yang disebut dengan 'era kedewasaan'. kedengarannya klise dan layak ditertawakan. tetapi begitulah pilihan hidup yang kini benar-benar aku yakini kesahihannya.

cukup sekian dulu kabar dariku. jangan lupa, perbanyak ibadah agar bisa merengkuh laila anaknya pak badar, eh......maksudku lailatul qadar!!!


Friday, August 18, 2006

Partai Uji Coba

Mari bergerilya melawan kemalasan