Saturday, August 02, 2008

Enrichissez Vouz!

Seruan itu tak hanya datang dari orang-orang bermulut wangi yang lehernya selalu dicekik dengan dasi. “Jadilah kaya!” adalah seruan semua penghuni kota ini.

Aku dengar seruan itu, Sayang. Aku mendengarnya seraya mengutuk kemiskinan ini. Siapa yang tak ingin naik ke jenjang yang lebih tinggi? Siapa?

Tapi hari ini masih hari yang sengsara. Hari yang kita sebut ‘jaman perjuangan’. Kita bukan pengecam para maniak uang, tapi kita juga bukan orang yang suka hidup dengan kerendah hatian orang lain.

Kemiskinan ini, Sayang, tidak mudah dijinakkan. Percobaan demi percobaan untuk mendapatkan laba-lebih selalu mandek. Yang ganjil, banyak manusia seusia kita telah tiba lebih dulu ke jenjang itu: kemakmuran dengan segala keriuhannya.

Kita baru akan mencicipi buah yang kita tanam belasan tahun. Kita selalu percaya pengetahuan yang kita kumpulkan di bangku sekolah akan menolong kita di kemudian hari. Tapi masa panen itu belum benar-benar tiba.

Kau bilang kita adalah bagian dari masyarakat yang tak kena kutuk. Kau menunjuk seorang tetangga yang sarjana tapi kerjanya adalah mencari pekerjaan. Itu benar, Sayang. Tapi sehebat-hebatnya kita, toh nyatanya hari ini kita masih makan bersama dari piring yang sama.

Ada yang mengarahkanku agar berjungkir balik di sajadah, merapalkan doa, dan berharap tangan yang tak terlihat itu mau terlibat memperbaiki nasib kita. Aku tak melakukan itu. Bukan, bukan karena aku menganggapnya tahayul. Aku hanya ragu apakah dengan melakukan itu segala isak tangis akan habis.

Aku percaya, di masa sengsara, ide-ide menyeruak. Inilah periode lahirnya pikiran-pikiran brilian. Karena itu, selain mengkutuk keadaan ini, sejatinya aku juga merindukannya. Membuncitkan perut dan mencerahkan pikiran terkadang tak bisa dilakukan serentak.

Maka menjadi kaya tak mesti diukur dengan seberapa banyak rupiah yang telah kita tumpuk. Gagasan-gagasan yang kita kembang biakkan akhir-akhir ini juga bisa membuat kita jadi borjuis. Atau setidaknya kita adalah kaum proletariat yang hebat….

(Thanks to Goenawan Mohamad, sumber inspirasiku)

No comments: